Ragam

Bukan Sekadar Film Kiamat, Greenland Bikin Emosi Terkuras

×

Bukan Sekadar Film Kiamat, Greenland Bikin Emosi Terkuras

Sebarkan artikel ini
Bukan Sekadar Film Kiamat, Greenland Bikin Emosi Terkuras
Bukan Sekadar Film Kiamat, Greenland Bikin Emosi Terkuras. /Instagram

PenaKu.ID – Film Greenland (2020) menghadirkan cerita kiamat global dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan film bencana. Alih-alih memusatkan perhatian pada kehancuran masif dan visual spektakuler, film ini memilih jalur yang lebih intim dengan menyoroti perjuangan sebuah keluarga kecil menghadapi ancaman kepunahan manusia akibat hantaman komet.

Disutradarai Ric Roman Waugh, Greenland menampilkan Gerard Butler sebagai John Garrity, seorang insinyur struktur yang kehidupannya berubah drastis ketika para ilmuwan mengonfirmasi bahwa komet bernama Clarke berada di jalur tabrakan dengan Bumi. Awalnya, komet tersebut diperkirakan hanya akan melintas, tetapi situasi memburuk ketika pecahannya mulai menghantam permukaan planet dan meluluhlantakkan kota-kota besar dalam waktu singkat.

Di tengah kepanikan global, pemerintah Amerika Serikat menjalankan program evakuasi rahasia dengan menyeleksi individu-individu tertentu untuk diselamatkan ke bunker bawah tanah di Greenland. John, istrinya Allison (Morena Baccarin), serta putra mereka Nathan (Roger Dale Floyd) secara tak terduga masuk dalam daftar penyintas terpilih. Namun, peluang hidup itu justru membuka rangkaian perjalanan penuh risiko.

Keluarga Garrity harus menembus kekacauan Amerika Utara yang nyaris lumpuh total. Jalan raya dipenuhi pengungsi, transportasi publik berhenti beroperasi, dan kepanikan massa terjadi di berbagai wilayah. Kondisi semakin rumit karena Nathan mengidap diabetes dan membutuhkan insulin secara berkala, membuat setiap langkah menjadi taruhan antara hidup dan mati.

Greenland Tampilkan Bencana Global

Seiring perjalanan, konflik demi konflik muncul, termasuk perpisahan sementara antaranggota keluarga akibat aturan evakuasi yang kaku dan tanpa empati. Film ini menampilkan dengan lugas bagaimana bencana berskala global mampu memunculkan sisi kemanusiaan yang kontras—mulai dari solidaritas hingga tindakan nekat demi bertahan hidup.

Ketegangan mencapai puncaknya saat keluarga Garrity akhirnya berhasil naik ke pesawat evakuasi menuju Greenland, tepat ketika fragmen terbesar komet Clarke menghantam Bumi dan menghancurkan peradaban di permukaan. Bersama para penyintas lainnya, mereka berlindung di bunker bawah tanah sambil menanti masa depan yang penuh ketidakpastian.

Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Greenland menutup kisahnya dengan secercah harapan. Para penyintas keluar dari bunker dan mendapati Bumi perlahan mulai pulih. Meski dunia telah berubah drastis, umat manusia masih diberi kesempatan untuk memulai kembali kehidupan.

Dirilis di tengah pandemi COVID-19, Greenland memperoleh respons positif dari kritikus dan penonton. Film ini dinilai berhasil menyajikan kisah kiamat yang terasa lebih realistis dan menyentuh secara emosional karena berfokus pada dinamika keluarga, bukan sekadar efek visual.

Melalui pendekatan yang lebih membumi, Greenland menegaskan bahwa di tengah kehancuran dunia, kisah paling bermakna tetaplah tentang manusia—dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup bersama orang-orang terkasih.** [tds]