PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan hingga perdagangan siang, Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda melemah seiring penguatan dolar AS di pasar global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tensi geopolitik dunia.
Berdasarkan perdagangan valuta asing, mata uang Garuda sempat bergerak di level Rp17.489 per dolar AS pada sesi pagi. Menjelang siang, nilai tukar rupiah kembali mendekati posisi Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut menandakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dalam beberapa hari terakhir.
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya minat investor terhadap aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian global. Konflik geopolitik di sejumlah wilayah serta kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar kekhawatiran pasar dan memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik. Situasi itu mendorong kenaikan permintaan dolar AS sehingga menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah.
BI Lakukan Langkah Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Meski demikian, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar tetap terkendali. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan mata uang Garuda masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Pasar saat ini masih dipengaruhi sentimen terkait arah kebijakan suku bunga AS, perkembangan geopolitik global, serta arus investasi asing di pasar keuangan domestik.
Pelaku pasar kini menantikan rilis sejumlah data ekonomi global dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.** (tds)










